Selasa, 26 Januari 2021

Detox Berujung Sakit

 Detox Alami atau Instan With Flimty?

    Hallo, its been awhile sejak pertama kali ng-blog ditahun 2019 yang membahas soal Perjuangan Lepas dari Krim Dokter. Kali ini saya mau bahas soal Detoxifikasi. Pastinya kata "Detox" bukan lagi kata asing buat kalian yang berkecimpung dalam hal kecantikan, kesehatan dan perawatan diri. Yup, detox sendiri merupakan pembuangan toksin/racun. Detox sendiri sangat penting untuk membuat tubuh dan metabolisme kita tetap sehat dan terjaga. Salah satunya adalah detox usus besar (Colon) yang mostly people did it to reduce the weight. Selain membersihkan usus besar juga dapat menurunkan berat badan. Sepengalaman saya, banyak produk yang dijual dipasaran menawarkan Detox sebagai penurun berat badan. Well, memang tidak salah karena detoxifikasi salah satunya  juga memiliki manfaat itu, tetapi kebanyakan orang lebih melihat label manfaat yang cenderung lebih ke mengurangi BB. Padahal, tujuan detox sendiri lebih kepada proses pembuangan racun dalam tubuh, sedangkan untuk mengurangi berat badan maka setelah detox mulailah dengan menjaga pola makan dan olah raga ofcourse!

    Disini yang akan saya bahas adalah produk Flimty. Produk ini dibuat oleh PT. Anugrah Ori Bionature Indonesia yang terkenal dengan cara/prosesnya mengikat makanan/sisa makanan yang kotor di dalam usus seperti minyak, gluten dll yang nantinya akan dibuang melalui BAB.


Flimty ini memiliki 2 varian rasa yaitu Blackcurrent dan Raspberry. Pengemasan dengan kotak yang berisi 16 sachet. Untuk lebih detailnya, bisa masuk ke www.flimty.com πŸ˜‰


     Awal mula membeli Flimty ini, pertama karena banyak review bahwa produk ini sangat bagus untuk melancarkan BAB serta detox, mengecilkan perut buncit, dll. Kedua, Flimty ini mirip dengan minuman serat seperti 'Vegeta' dengan klaim rasa enak. Buatku, membeli Flimty tidak ada niat untuk menurunkan BB ataupun melancarkan BAB tetapi untuk detox. Karena apa... BB saya sudah stabil dari dulu dengan TB 160 dan BB 47 dan tidak punya keluhan perut buncit, BAB susah dll. Tetapi, beberapa bulan kebelakang, saya rutin mengkonsumsi obat alergi. FYI, saya alergi daging-dagingan πŸ˜“, so mau tidak mau saya harus menjadi vegan, cuma...ada cumanya, saya ini memiliki riwayat anemia. Konsultasi ke dokter, saya mesti sedikitnya mengkonsumsi daging, dan itu benar-benar dilema buat saya. Makanya setiap makan daging, saya selalu barengi setelahnya dengan obat alergi.

    Jauh sebelum membeli Flimty, saya pernah melakukan detox alami yaitu dengan meminum air perasan lemon dan madu, di pagi hari dan malam hari rutin. Karena bahannya benar-benar alami, perubahan tidak terasa dalam jangka waktu sebulan atau 3 bulan tetapi sekitar 6-8 bulan! Tubuh sangat ringan, tidak gampang ngantuk, lelah dan tidur malam cukup nyenyak. Dan genap satu tahun malah BB saya turun drastis menjadi 39-40 kg!πŸ˜‘ Padahal saya jarang olahraga waktu itu, karena kegiatan saya sendiri sudah cukup banyak. Meskipun BB turun drastis, saya malah merasa lebih sehat, tidak pusing maupun lelah. So, kemungkinan toxin ditubuh saya hampir sepenuhnya hilang atau karena kegiatan saya cukup padat, Im not sure tapi karena BB segitu, banyak orang judge me kekurusan!πŸ˜‘. Society matter 😜, kurus dibilang kekurusan gemuk dibilang kegemukan. Tapi ya memang, kurus dan langsing adalah hal yang berbeda banget, so saya coba naikan BB sampai ideal sampai sekarang ada di angka 45-47 kg.

    Nah, itu pengalaman saya detox dengan bahan-bahan alami seadanya dirumah. Kenapa saya tidak melakukan hal yang sama, karena akhir tahun kemarin saya terkena GERD dan sakit berhari-hari. Ya mungkin seperti sepele, sakit maag seperti makan telat dll, bahkan saya sudah tak bisa makan mie instan lagi 😭 (say goodbye pada kenikmatan duniawi) apalagi air lemon yang memiliki kandungan asam tinggi. Jadi saya coba beralih pada Flimty. Awalnya saya ragu, butuh waktu sebulanan untuk jadi membeli ini produk πŸ˜†. Soalnya meskipun Flimty juga memiliki komposisi bahan-bahan alami tapi tetap saja saya agak takut dengan efek ketagihannya. But, Flimty sendiri mengklaim tidak akan menyebabkan efek jangka panjang & ketagihan. Well, akhirnya saya membeli sekotak Flimty. Disebutkan cara pemakaiannya, jika untuk Detox diminum pada pagi hari 2 jam sebelum sarapan dan di malam hari 2 jam sebelum makan malam selama 7 hari hari. Untuk menjaga BB stabil hanya minum  sehari sekali di malam hari 2 jam sebelum makan malam.

    Well, saya coba minum di hari pertama pada pagi hari. 3 jam pertama tak ada reaksi apapun diperut. Namun, menjelang siang hari perut mulai berkontraksi, rasa mulas mulai terasa dan sejak saat itu saya bulak-balik ke toilet dengan frekuensi 10X BAB. Saya sempet bingung awalnya, testi orang-orang paling banyak itu 5X, perut plong dan enteng. Sampai menjelang sore, saya tetap bulak-balik ke toilet dan dihitung-hitung total 16X sebelum minum sesi kedua 2 jam sebelum makan malam. Pada tengah malamnya hingga menjelang pagi saya masih tetap BAB hingga 4X, tidur pun tidak nyenyak dan lemas. Jujur, saya masih berpikir apakah racun ditubuh saya sebanyak ini ya... dan bahkan perut saya agak sedikit kram. Cuma saya masih penasaran dan masih ingin lanjut untuk detox. Hari kedua, reaksi Flimty di tubuh saya masih tidak jauh berbeda, frekuensi BAB sangat sering, masih terhitung 18X. Yang saya rasakan mulai lemas, bahkan BAB saya (mohon maaf) lebih kepada cairan sudah lebih dari diare. Jadi setiap saya minum air putih segelas, perut saya langsung berkontraksi dan dibuang langsung lewat BAB. Disini saya pikir, usus saya menjadi tidak bisa menyerap nutrisi makanan atau mineral yang saya makan. Meskipun saya memakan makanan yang sehat (no gorengan, no gluten, no gula dan msg).

    Meskipun begitu, saya mencoba kesempatan sekali lagi di hari ketiga, dan...disini keadaan saya tepar karena dehidrasi. Semua makanan yang makan menjadi tidak terolah dengan baik di dalam usus saya, itu terlihat dari BAB (mohon maaf) yang beberapa masih berbentuk utuh makanan. Oke fix, there's something wrong detox by Flimty. Akhirnya di hari keempat saya pergi ke dokter, bahkan dijalan pun saya sempat berhenti-berhenti karena mulas. Sampai akhirnya... saya sampai dengan wajah pucat di RS. untungnya pagi itu tidak mengantri jadi panggilan pemeriksaan lebih cepat.

Singkatnya...setelah pemeriksaan... Dokter malah menegur saya setelah saya dinyatakan bahwa usus saya mengalami luka-luka dan dehidrasi, bukan panas dalam biasa, tetapi luka yang disebabkan minuman yang saya konsumsi untuk detox makanya usus tidak maksimal untuk mengolah makanan. Dan, jika dikonsumsi terus-terusan bisa jadi proses BAB tidak akan terjadi secara alami lagi kecuali dengan bantuan obat-obatan perangsang BAB 😭😱. Yang saya rasakan, ngeri, bingung dan merasa bersalah. Akhirnya dokter memberi obat khusus colon dan untuk menghentikan frekuensi BAB.

    Pada hari kelima, saya berhenti mengkonsumsi Flimty. Meskipun sudah konsumsi obat dari dokter, namun frekuensi BAB saya mulai berkurang tetapi masih terhitung banyak yaitu 8X 😰. Hari keenam, frekuensi BAB saya kembali mulai berkurang menjadi 5X sehari. Hingga pada hari ketujuh, saya tidak BAB sama sekali tetapi perut masih terasa sakit. Hingga hari kesepuluh, barulah saya kembali normal, tidak ada rasa kram perut, mulas dan lemas. BAB pun lancar seperti sedia kala. So...disini saya berpikir mungkin banyak yang cocok meminum Flimty tapi tidak semua. Buatku, mungkin jika skalanya 9 orang cocok meminum Flimty, maka 1 orang itu adalah saya πŸ˜…. Saya tidak menyalahkan Flimty karena malah membuat saya menjadi sakit, hanya saja semua produk itu cocok-cocokan dan reaksi orang juga berbeda-beda. Tapi sayang...sayang sekali buat Flimty. Padahal menurutku Flimty bagus karena tidak menyebabkan asam lambung meski dari varian rasanya blackcurrent yang agak asam-asam. Tapi apa boleh buat.

    Tapi setidaknya, mungkin beberapa racun ditubuh saya ada yang terbuang saat masih mengkonsumsi Flimty. Oke.. I think that's all, Buat para pembaca, saya harap pengalaman saya dapat memberikan kalian keputusan untuk detox. Pilih alami sangat dianjurkan, tetapi butuh waktu untuk terlihat hasilnya tapi tidak ada efek samping, tetapi kalau mau beli Flimty juga boleh, tapi...ingat, jangan beli sekaligus 1 box kayak saya πŸ˜…, jadinya mubazir karena tidak cocok. Beli saja dulu beberapa sachet sesuai kebutuhan untuk coba-coba. Dan ingat, hanya diminum saat libur ya, kalau pas kerja atau sekolah, duh bakalan repot.


Thankyou!










Rabu, 18 September 2019

Perjuangan Lepas dari Krim Dokter

Udah lama mau kutulis pengalamanku saat lepas dari krim dokter. Soalnya ini mungkin jadi pengalamanku satu-satunya yang complicated tentang penampilan fisik terutama wajah. buat para wanita, siapa sih yang enggak mau punya wajah bening, mulus, bersih, tarolah enggak punya masalah apapun. Nah disini aku mau sedikit berbagi pengalamanku, siapa tahu bisa membantu kalian-kalian yang sedang berjuang lepas dari krim dokter.

Aku cantumin dulu, kondisi kulitku adalah 'KERING+SENSITIVE'. Untuk jerawat kemunculannya hanya sewajarnya misalnya satu atau dua itupun kalau asupan makananku sedikit kotor (Misal aku terlalu banyak makan gorengan atau pedes) atau mau PMS. Wajahku jarang berminyak, memang keuntunganku kalau pakai make-up jadinya awet ga gampang oily, tapi resikonya, ketika kulitmu ga berminyak, maka otomatis lapisan kulitmu akan memproduksi minyak berlebih yang akhirnya jadi sebum hingga menjadi 'WHITE HEAD', dan itu terjadi dikulit wajahku, kalau ga dibersihkan biasa di hidung dan dagu itu banyak komedonya. jadi sebetulnya aku malah berharap, wajahku sedikit berminyak ketika orang lain mengharapkan wajahnya tidak berminyak 😣

Jadi, aku mulai mendatangi Natasha Skin Care pada tahun 2014 di klinik Cirebon. Biasanya untuk pertama kali orang datang, diharuskan foto wajah terlebih dahulu (Ritual untuk daftar pasien before after, tapi pada akhirnya ketika di tangani oleh dokter yang berbeda-beda, foto itu kurang berguna 😞). Setelah beberapa prosedur dijalani, keluhanku yang pertama aku ajukan adalah kulitku kering. selebihnya saat dokter menawariku untuk cream memutihkan, glowing dll, aku menolaknya. Sederhana kan? aku cuma butuh 'Kelembapan' πŸ˜† . oh FYI, dari dulu aku pakai pelembab Olay yang Tube, penampakannya kayak dibawah ini, ga tahu sekarang masih ada apa nggk atau udah ganti kemasan.
Hasil gambar untuk olay tube
Selama satu minggu setelah, pakai dari krim dokter, wajahku memerah dan panas, kayaknya inflamasi. Reaksi ini sepertinya karena dosis Cream yang terlalu keras, dari situ kurang lebih aku bulak balik ke Natasha sampai Creamnya berdosis rendah dan cocok di kulit wajahku. Dan akhirnya, Ta Da~! Wajahku bener-bener lembap plus cerah, bonusnya glowing dan Chewy, nggk kering. Hanya pemakaian kurang lebih 3 bulan, wajahku maksimal bak artis korea πŸ‘ΈπŸ˜­. Setelah itu aku rutin, yang awalnya krim habis selama 1 bulan, kemudian aku mendatangi natasha menjadi dua bulan sekali. Soalnya aku pakai Cream, selama aku mau aja, nggk rutin. Selama setahun penuh baru kekecewaan terjadi, Natasha itu selalu mengeluarkan terobosan Cream dengan formula barunya, kadang saat kita beli Cream yang udah biasa kita pakai dan habis (tidak produksi lagi) maka akan digantikan dengan produk baru. Jadi seolah kondisi kulit kita mesti menyesuaikan dengan si formula baru Cream nya. Makanya, ini sebetulnya salah satu list kekecewaanku pada Natasha. Cuma dari situ ya, aku mau ga mau aku masih mencoba berharap sama Natasha.

Rangkaian Natasha yang udah ga aku pakai lagi

Tahun 2017, aku Vacum full setahun dari pemakaian Natasha. Kenapa? Soalnya waktu itu aku kepotong sakit keras, baru awal 2018 aku mulai lagi mendatangi Natasha, cuma kaget banget, semua Cream yang aku pakai hampir semuanya sudah ga produksi lagi 😰, hingga akhirnya aku mulai lagi dari Nol! Yang mesti mencoba Cream-Cream mana yang cocok apa nggk. Dari situ mulailah aku males-malesan pakai Natasha. Jadwalku menjadi mundur, yang biasa 2 bulan sekali ke klinik ini jadi 3 sampai 4 bulan sekali. tapi disitu mulai, kulit wajahku mengelupas abis-abisan, udah kayak kulit ular sampai ditarik dikelupasinpun bisa! Hingga akhirnya menipislah kulit wajahku, sampai kelihatan spider veinnya, udah kulitku memang putih, ini makin pucat, Fix jadi zombie. Tiap ke kampus aku di katain pucat mulu, padahal enggak sakit, atau dikatain si anak Anemia 😭😭😭. Pusing banget sampai pada Tahun 2019 bulan Agustus, barulah aku menguatkan tekad buat berhenti total dari Natasha. Why?? Soalnya dari Bulan Mei sampai Juni kembali aku jatuh sakit, pas datang ke Natasha, lagi-lagi semua formula Creamnya diganti total, kulit wajahku yang udah ga bisa menyesuaikan sama formulanya, mulai beruntusan merah di bagian pipi dekat mulut. Memang bagian itu terjadi Exfoliasi yang cukup banyak padahal aku g pernah facial atau exfoliasi atau apapun. Pokoknya kedua Pipiku Fix, bruntusan merah banyak!

Kondisi Agustus 2019
Ini foto penampakan pipi kananku, beruntusan merah, dan kalaupun di dempul pakai make-up kayak jalan sungai kering, gerinjulan. Astaga 😭 aku nangis dan g mau ke kampus. Sampai-sampai ada jadwal tesispun aku sedikit undur-undur terus, malunya minta ampun. Dari situ, aku mulai paham saat udah berhenti dari Cream dokter, orang-orang biasa bilang itu efek dari 'ketergantungan' cuma menurutku ini merupakan kondisi kulit dimana asupan nutrisi selama kita memakai Cream dokter tidak terpenuhi makanya bisa dibilang sedang 'Rewel atau Mewek' kulitnya 😀.

Selama masa pemberhentian dari pemakaian Cream dokter, yang aku lakuin adalah :
  1. Cuci muka hanya pakai air hangat kuku di lap kain tepuk lembut-lembut
  2. Ga pakai Mousturizer sama sekali
  3. Hanya pakai Virgin Olive oil. (FYI aku g pakai olive oil dari herborist ataupun mustika ratu, soalnya di wajahku g cocok dan gatal, di herborist olive oilnya mengandung mineral oil, yang membuat wajah kalian jadi berkomedo sementara mustika ratu, jadi membuat kulit wajahku gatal super disertai beruntusan seperti kuman-kuman gitu)
  4. Sehari dua kali minum teh hijau
  5. Tidak makan daging-dagingan dulu (FYI aku memang alergi dengan ayam + telur, tapi untuk mempercepat proses BreakOut, sebaiknya kalian makan sayuran tanpa protein, juga hindari dulu produk mengandung susu)
  6. Setiap keluar pakai masker, berguna banget ngurangin asep sama kotoran ke wajah.
Selama 10 hari, itu aku bertahan dengan wajah BO ku yang super. Sambil baca-baca artikel, mostly orang-orang setelah BO pindah skincare ke Wardah, banyak review yang merasa cocok, maka aku tertarik mencoba rangkaian skincarenya, kemudian yang kupilih adalah Wardah Nature Daily, baik yang Seaweed ataupun AloeVera.


Foto diatas itu aku beli 1 set untuk rangkaian Wardah Nature Daily for Dry skin. Awalnya aku semangat banget, habis proses BO ini selesai harapannya ini wardah bisa cocok di wajahku. Setelah dirasa cukup memberikan jeda pada kulit wajahku untuk beradaptasi dari BO, meski belum sembuh total dan menyisakan bruntusan merah. Aku pakailah wardah ini...dan... 😭😭😭 ENGGAK COCOK!!! Wajahku menjadi-jadi parah merah, yang biasanya bruntusannya kecil-kecil malah membesar tapi tetap bukan jerawat. Wuaaa 😭, aku nangis.


Diatas kondisi wajahku pas akhir agustus, itu bruntusan merah semuka! Padahal itu minggu depannya aku harus persiapan untuk sidang 😭. G Kebayang, lagi sidang di tonton orang banyak pas wajah lagi begini OMG pengen nangis, g sanggup liat wajahku menjadi begini, aku nggk ngerti kenapa BO nya malah makin parah bukannya berkurang. Apakah ini karena Wardah yang gak cocok atau BO ku masih dalam proses. Dari situ aku mulai baca-baca deh semua artikel seputar BO sampai kandungan-kandungan skincare buat tipe jenis kulit wajahku.

Ternyata, proses BreakOut itu ada 2 macam, yang pertama itu Purging yang kedua Alergi. Nah, kalau purging itu, biasanya muncul dibagian kulit yang biasa timbul permasalahan. Misalnya Jerawatku biasa timbul di hidung nah pas purging akan timbul lagi di hidung selama proses BO, sedangkan alergi itu, reaksi ketidakcocokan kulit terhadap suatu produk baik saat berhenti maupun saat mencoba yang baru dan waktunya sangat lama untuk pulih dibandingkan dengan purging. Juga Alergi akan muncul hampir disemua bagian kulit.

Dan...oke Fix, aku BO alergi! 
Selanjutnya aku baca deh yang kandungan-kandungan Skincare yang mesti dihindari olehku, ternyata ada beberapa :
  1. Methyl
  2. Paraben
  3. Fragrance
  4. Mineral Oil
  5. SLS dan SLES
Dan yang disebutkan aku diatas, bener banget. Kelima kandungan itu yang bikin kulitku bruntusan merah. Dan itu ditemukan di Rangkaian wardah ini :


Arghh~ memang pas aku aplikasikan ke wajahku terutama yang Face wash Aloe Vera, gila emang wajahku bruntusan merah, ternyata mengandung SLS (Sodium Lauryl Sulphate). Dan hampir semua produk wardah pakai SLS untuk Face Wash bahkan skincare yang lain. Kalaupun yang bener-bener nggk ada, harganya cukup mahal macam Cetaphil atau produk-produk yang bisa ditemui di Watson atau Guardian. Dan Cetaphilpun belum tentu cocok. Ribetnya! Kulit wajahku menjadi rewel semenjak aku berurusan dengan Natasaha, seolah keadaan normal kulitku yang cuma kering dan butuh kelembapan, menjadi kebutuhan yang komplikasi, kini pori-pori pipiku yang dekat dengan hidung sedikit membesar, komedoku yang biasa dihidung dan dagu kini muncul dipipi, saat aku keluarin pori-pori pipiku sedikit bolong-bolong 😭😭😭, emang penyesalan datang terakhir. Nyesel aku pakai Cream-cream dokter.

Pernah terbesit aku pengen datangi dokter kulit. Ya, Dokter spesialis kulit dan kelamin, soalnya permasalahanku bukan lagi pada penampilan, tapi udah tahap alergi dan ga sembuh-sembuh. Cuma mamaku melarangku, soalnya itu tetep nanti disuruh pake Cream dokter juga ntar hasilnya ketagihan lagi. Aku pikir iya juga sih aku uda lepas dari Cream dokter malah niat mau di dempul Cream dokter lagi. Arghh~ Tapi aku gak tahan tiap kali ngaca, wajahku hancur 😭. Akhirnya jalan satu-satunya, aku 'TUTUPIN CERMIN' dikamar pakai kain dan ga pernah ngaca-ngaca lagi, kebetulan aku lagi diem dirumah, jadwalku ke kampus mulai agak jarang, jadi aku bener-bener diem di dalam rumah g keluar sedikitpun.

Lalu aku juga udah nyerah mau coba skincare apapun, yang akhirnya aku ga pakai apapun. Tapi mamaku menawariku pelembab, se-enggaknya pelembab itu perlu. Meski uda males mau pakai pelembab lagi akhirnya aku nurut aja. Mamaku nawarin aku pakai pelembab dari Marcks.

                                                  

Banyak review soal Moisturizer ini membuat wajah jadi Oily ataupun kurang melembabkan, tapi kandungannya cukup ringan apalagi ditambah ada Jojoba Oil. FYI jojoba oil ini emang ampuh untuk mengurangi iritasi ringan kayak kemerahan yang tiba-tiba muncul diwajah. Karena mamaku menawari ini, ya aku pakailah ini, cuma aku aplikasikan dulu ke leher, karena trauma takut BO ku malah makin menjadi-jadi lagi, cuma pas di aplikasikan ke leher, ga bereaksi apapun lalu aku pakailah di wajah. Wanginya mengingatkan pada bedak taburnya, lembut dan memang sedikit terlihat chewy di wajah tapi buatku enggak berminyak karena pada dasarnya kulitku kering.

Selama pemakaian 3 hari pakai Marcks ini, kulit wajahku lumayan enakan, bruntusan merah mulai kempes perlahan, bagian yang merah-merah mulai pudar tapi tetep ga hilang. Cuma kalau di aplikasikan dengan bedak, Merah-merah dan bruntusanku ga terlalu keliatan, tapi tetep gerinjulan. Tapi bomat deh, segini udah mendingan. Jadi dari sini, aku uda make Moisturizer Marcks sama bedak taburnya, buat perawatan wajah. Untuk hapus make-up, aku ga pakai micellar water, soalnya kondisi kulitku masih bisa dibilang sakit, meski Micellar water itu ringan dan ampuh mengangkat kotoran, aku cuma pakai Virgin Olive oil untuk angkat kotoran sama kapas, sisanya aku bersihkan lagi pakai kain dan air hangat kuku lalu tepuk-tepuk halus.

Hari H tiba, mau ga mau aku mesti ke kampus untuk berurusan sama sidang, kulit wajahku memang belum sembuh benar tapi sudah mendingan, kayaknya udah mulai tenang dan beradaptasi sama Marcks. Dengan banyaknya kegiatan diluar, otomatis debu sama kotoran lebih banyak yang menempel di wajahku, terbesitlah aku pengen beli Face Wash yang g memiliki kandungan 5 diatas tadi. Cuma ya apa? Hampir semua face wash ada salah satu dari 5 kandungan tsb terutama SLS. Masa ia aku mesti beli yang mahal-mahal, dan belum tentu cocok. Tapi mau ga mau, sepulang dari kampus aku mampir ke drugstore untuk beli face wash.

Tiap produk yang aku lihat, aku baca dengan teliti soal kandungannya. Mba-mbanya sampai senyum-senyum seolah aku kayak anak rajin πŸ˜‘, padahal aku juga kepaksa baca beginian kalau ga kulit wajahku gini. Awalnya aku beli Wardah Face Wash yang white secret (Lagi-lagi wardah! emang gak kapok πŸ™ˆ). Kenapa aku pilih wardah yang white Secret? Disitu ada kandungan AHA untuk merangsang pertumbuhan kulit yang baru. Aku mikirnya, karena kulit wajahku udah tipis kemungkinannya kulit wajahku bakalan balik lagi ke normal.

Esok paginya aku coba cuci muka pakai wardah ini, dan hasilnya~ Ta da... lagi-lagi gak cocok!! 😭


Kulit wajahku sebagian merah-merah dan luar biasa gatal, pas aku baca-baca teliti lagi, di situ ada kandungan SLS sama AHA itu menyebabkan iritasi, jika terjadi hentikan pemakaian! What?! SLS, ko aku ga baca pas beli, apa aku kebanyakan baca dulu facial wash yang lain, makanya yang ini seolah ga ada SLS nya (Stress tingkat dewa πŸ˜–πŸ˜–πŸ˜­) Dan setelah aku baca-baca soal AHA lebih detailnya ternyata 'AHA memiliki kemampuan untuk merusak lapisan kulit di bagian terluar (stratum korneum). Tujuannya yaitu untuk merangsang pertumbuhan kulit baru yang lebih sehat'. Alamak~ Kulitku emang ga mau dirusak lagi. Cuma aku juga butuh Face Wash, soalnya udah banyak kegiatan diluar, debu juga makin tebal. Ga cukup dibersihkan pakai air doang.

Esoknya, aku balik lagi ke drugstore, Dirak sebelah Wardah ada produk baru, namanya Emina. Emina saat ini lagi booming dikalangan remaja. Awalnya aku ga tertarik. Tapi aku coba baca kandungannya. Dan aku heran banget, aku kirain, Emina Face Wash Bright Stuff ini bakalan mengandung SLS atau Fragrance, biasakan buat Remaja suka wangi-wangi gitu, model Citra juga Face Washnya semerbak tiap temen make. Ini Emina Face Wash Bright Stuff, gak ada SLS ataupun Fragrance. Terus aku mikir, ini seriusan? Ukurannya 50 ml, unyu pink dan cewe banget harganya pun murah meriah. Meski ragu, aku beli deh.



Malamnya aku coba aplikasikan ke leher dulu selama 2 hari dan nunggu reaksi. Ternyata ga berasa gatel merah ataupun kering. Lanjut 2 hari kemudian, aku aplikasikan ke wajah. Iya, wajah! aku uda ngebayang ini pasti merah, alergi lah bruntusan lah. Duh aku cuma bisa pasrah. Beres aku basuh lagi wajah, buru-buru aku ngaca dan....OMG!!!! ga merah ga gatel ga apa-apa!!!!!! Rasanya pengen nyanyi 'We are champion' sambil salto!!!! Ini!! Ini nggk mimpi kan?!! Cocok pas sip!! Aku sampe nangis haru, *Akhirnya ku menemukanmu~ By Naff
Habis dari situ aku masih nunggu harap-harap cemas, meski cocok di awal, tapi waspadaku belum menurun, takut-takut reaksinya ada di beberapa hari setelah pemakaian, bruntusanku perlahan hilang bukan lagi kempes, iya hilang! Jadi kering terus bisa kau pretelin dan tanpa bekas. Wajahku juga jadi bersih, kering normal. Bukan lagi kering ngelupas. Pori-pori di pipi dekat hidungku juga mulai mengecil, bruntusan yang di dalam yang buat kulit wajah gerinjulan mulai hilang dan sebagian keluar mengering dengan sendirinya.


Ini foto terakhirku September 2019 minggu kedua. Kulit wajahku sudah bersih sedia kala. Ini tanpa editan, kulitku memang putih pucat, jadi kalau ada bintik merah dikit aja, wuih kelihatan luar biasa aja. Jadi perjuanganku dari BO hampir sebulan lebih. Sebetulnya sebelum BO juga kulitku uda banyak permasalahan, yang nggk cocok sama formula baru Natasha. Jadi kalau di total, mungkin 2 bulanan. Oia, aku juga pakai Wardah White Secret yang Pure Treatment Essence, itu mengurangu bruntusan  di dahiku. Aku pakai tiap malam 2 hari sekali. Tapi akhir-akhir ini, jadi ada reaksi gatal, jadi aku hentikan pemakaian.

So, sampai saat ini, Skincare ku cuma :
  1. Moisturizer Marcks
  2. Emina Face Wash Bright Stuff
  3. Toner Air mawar merah
  4. Vasseline Potrelum Jelly
  5. Micellar Water Garnier
Simple abis kan? Aku ga pakai Cream malam-malaman. Masih takut, tapi kalau dirasa kering, malam aku pakai Moisturizer Marcks juga, pakai tipis-tipis. Intinya, Marcks satu untuk semua. Meski kulitku uda bersihan, tapi belum tentu sembuh benar. Mengingat aku pakai Natasha udah bertahun-tahun, kebayang dong kandungan serta zat-zatnya masih belum semua dikeluarin oleh tubuh sama kulitku, So~ untuk membantu pengeluaran zat-zat yang berbahayanya, aku barengi dengan konsumsi Saffron dan menghindari makanan yang berdaging dulu. Kebetulan aku lagi belajar jadi vegetarian, semenjak aku alergi dengan ayam+telur, aku juga ragu dengan daging-dagingan yang lain. Tapi dengan begitu, sayuran-sayuran sangat membantu proses pengeluaran racun / Detoxifikasi.

Mungkin hanya sekian yang bisa aku bagikan soal pengalamanku mengenai BO dan segala macamnya. Semoga bisa membantu bagi diluar sana yang sedang berjuang juga. Saranku, ketika kulit wajahmu sudah normal, lebih baik jangan datang ke klinik kecantikan, berusahalah untuk mensyukuri yang kita punya (Diriku jadikan contoh buruknya saja, karena ketidakpuasan penampilan 😭). Perawatan memang perlu, tapi akan lebih baik perawatan itu tidak membuat kalian menderita, mulai dari biaya hingga barang yang didapatkan tidak susah untuk dicari.

Bagi yang sedang dalam proses BO, banyak-banyakin sabar, soalnya kalau stress terkadang bisa membuat BO makin parah dan jangan sering ngaca! Itu tuh bikin kita stress luar biasa. Tips-tipsnya udah aku bagikan, jadi mulai rajin baca mengenai kandungan-kandungannya. Tapi 5 poin diatas, perlu dihindari kalau kalian memiliki kulit se-sensitive kayak diriku.

Semoga membantu, Terima kasih banyak telah membaca πŸ˜†